Selamat Ulang Tahun!

Kisah Tragis Thai Farmer Bank, Klub Thailand Juara Asia yang Kemudian Bubar

"Mereka menjadi tim Asia Tenggara pertama yang jadi juara Liga Champions Asia, bahkan menjadi klub pertama mampu mempertahankan gelar juara. Nasibnya terpuruk."

Feature | 04 January 2021, 04:53
Kisah Tragis Thai Farmer Bank, Klub Thailand Juara Asia yang Kemudian Bubar

Libero.id - Thai Farmer Bank Football Club (TFB) pernah menyandang status tim terbaik Asia. Klub asal Bangkok itu menjadi tim ASEAN pertama yang menjuarai Asian Club Championship (Liga Champions Asia). Mereka juga jadi klub pertama yang mampu mempertahankan trofinya.

TFB memang tinggal nama. Mereka bubar pada 2000 setelah selama 3 tahun terombang-ambing akibat krisis moneter Asia Tenggara yang mulai meledak pada 1997. Saat itu, Thai Farmer Bank sebagai perusahaan induk TFB mengalami kesulitan likuiditas sehingga harus ditutup. Kebangkrutan berdampak pada nasib Natipong Sritong-In dkk ketika itu.

Mereka bubar untuk selamanya. Ketika kondisi ekonomi mulai membaik, TFB tidak pernah bisa bangkit. Mereka tidak memiliki penerus yang berkompetisi di Liga Thailand modern (Thai League 1).

Bubarnya TFB sangat disesali Asosiasi Sepakbola Thailand (FAT) maupun Konfederasi Sepakbola Asia (AFC). Pasalnya, beberapa tahun sebelum bubar, TFB adalah klub elite. Bermaterikan gabungan pemain-pemain semiprofesional dan anggota tim nasional Thailand, TFB menjadi raja Asia dua musim beruntun, yaitu 1993/1994 dan 1994/1995.

Namun, jangan samakan kompetisi antarklub Asia ketika itu dengan masa kini, khususnya di era LCA. Berbeda dengan format LCA masa kini yang berdasarkan pada koefisien negara maupun liga, kompetisi antarklub elite Asia zaman dulu hanya menampilkan juara liga.

Sebagai juara Kor Royal Cup (kompetisi elite Thailand sebelum era Thai Premier League dan Thai League 1), TFB berhak tampil di Asian Club Championship. Pengalaman pertama TFB terjadi pada 1992/1993. Sayang, mereka dikalahkan juara Galatama, Arseto Solo, dengan agregat 2-3 di Putaran III.

Kegagalan tersebut membuat TFB berbenah ketika mendapatkan kesempatan mewakili Negeri Gajah Putih lagi pada 1993/1994. Hasilnya, mereka melangkah mulus setelah mengalahkan Arema Malang (Indonesia) dengan agregat 6-3 (2-2, 4-1) pada dua leg di Putaran I.

Seusai melewati hadangan Singo Edan, TFB tampil di fase grup yang semua laganya digelar di Bangkok. Tergabung di Grup 2, TFB bermain imbang dengan Liaoning FC (China) dan Muharraq Club (Bahrain).

Lolos ke semifinal sebagai runner-up Grup 2, TFB bertemu Verdy Kawasaki (Jepang). Setelah bermain imbang 1-1, laga berlanjut ke perpanjangan waktu dan adu penalti. TFB menang  3-1. Mereka berhak menantang Oman Club (Oman) di final. TFB unggul 1-0 untuk mencetak sejarah sebagai tim Asia Tenggara pertama dan satu-satunya yang juara, yang belum bisa dicapai tim lain hingga 2020.

Keberhasilan berjaya di 1993/1994 ternyata berlanjut pada 1994/1995. Sebagai juara bertahan, TFB langsung tampil di Putaran II. Mereka mengalahkan Mohun Bagan (India) 7-0 secara agregat (4-0, 3-0) untuk mendapatkan tiket fase grup. Grup Barat dimainkan di Qatar dan Grup Timur di Korea Selatan.

TFB bergabung dengan tim-tim besar Asia Timur seperti Seongnam Ilhwa Chunma (Korea Selatan), Liaoning FC (China), dan Verdy Kawasaki (Jepang). TFB beruntung karena lolos ke semifinal dengan hanya bergantung pada selisih gol setelah TFB, Liaoning, dan Verdy mengumpulkan 2 poin. Mereka tertinggal 7 poin dari Seongnam yang menyapu bersih 3 pertandingan.

Sebagai runner-up Grup Timur, TFB bertemu juara Grup Barat, Neftchy Fergana, dari Uzbekistan. Setelah bermain imbang 2-2, TFB unggul 3-2 lewat adu penalti untuk menantang Al-Arabi (Qatar), yang mengalahkan Seongnam pada semifinal lainnya. Semifinal dan final dilangsungkan di Bangkok.  

Akhirnya, TFB sukses mempertahankan trofi seusai mengalahkan Al-Arabi 1-0 lewat gol semaya wayang striker tim nasional Thailand, Natipong Sritong-In. Hasil membanggakan tersebut membuat mereka tercatat dalam sejarah sebagai klub pertama yang meraih dua piala dalam dua musim beruntun.

Prestasi TFB kemudian diikuti Pohang Steelers ketika menjadi juara dua musim beruntun pada 1996/1997 dan 1997/1998. Ada lagi Suwon Samsung Bluewings (2000/2001, 2001/2002) dan Al-Ittihad (2004, 2005).

Sayang, era TFB berakhir tragis. Setelah itu sepakbola Thailand berbenah dengan meluncurkan liga baru yang lebih rapi dan profesional. Kesehatan finansial dan keberadaan infrastruktur menjadi penekanan utama. Klub-klub tidak lagi bergantung pada perusahaan induknya, melainkan mendapatkan dana dari suporter, sponsor, dan siaran televisi.

Hasil pembenahan sepakbola Thailand langsung terlihat pada 2002/2003 ketika BEC Tero Sasana mencoba menyamai prestasi TFB. Klub yang kini bernama Police Tero tersebut tampil membanggakan di LCA.

Tergabung di Grup A bersama Daejeon Citizen, Shanghai Shenhua, dan Kashima Antlers, Therdsak Chaiman dkk saat itu menjadi juara grup. Dengan gagah berani BEC mengalahkan raksasa Uzbekistan, Pakhtakor, dengan agregat 3-2 (3-1, 0-1). Sayang, pada pertandingan puncak BEC harus menyerah dari Al-Ain (UEA) dengan agregat 1-2 (0-2, 1-0).

Usaha lainnya juga sempat dicoba Buriram United. Pada 2013, The Thunder Castles meloloskan diri dari hadangan FC Seoul (Korea Selatan), Jiangsu Sainty (China), serta Vegalta Sendai (Jepang) dari fase grup. Kemudian, mereka mengalahkan Bunyodkor (Uzbekistan) di babak 16 besar. Tapi, laju mulus Buriram dihentikan Esteghlal (Iran) di perempat final.




  • 0%Suka
  • 0%Lucu
  • 0%Sedih
  • 0%Kaget

Foto


Komentar

(500 Karakter Tersisa)
Sumber : https://www.youtube.com/watch?v=HgyPUs_08U4

Artikel Pilihan