Selamat Ulang Tahun!

6 Klub Liga Premier yang Terkena "Sindrom Musim Kedua" Setelah Promosi

"Dalam barisan ini ada tim yang sekarang menjadi langganan juara Liga Premier."

Biografi | 03 October 2021, 20:25
6 Klub Liga Premier yang Terkena "Sindrom Musim Kedua" Setelah Promosi

Libero.id - Di Liga Premier ada tradisi yang disebut sebagai "sindrom musim kedua". Itu biasanya diberikan kepada klub promosi yang tampil buruk di musim kedua setelah performa bagus pada musim pertama setelah naik dari kasta kedua.

Musim ini, sindrom musim kedua tampaknya akan didapatkan Leeds United. The Whites sudah menjadi tujuh pertandingan dengan satu kemenangan, tiga hasil imbang, dan tiga kekalahan. Kemenangan pertama mereka baru saja hadir pekan ini saat mengecundangi Watford 1-0.

Meski masih sementara, situasi seperti ini sangat disayangkan. Pasalnya, pasukan Marcelo Bielsa itu memainkan gaya bermain yang memiliki risiko tinggi untuk menjadikan Leeds sebagai salah satu tim promosi yang bermain paling efektif dan menghibur. Tapi, itu musim lalu.

Musim ini permainan Leeds menurun. Mereka seperti terjebak dalam lumpur degradasi jika tidak bisa melanjutkan tren kemenangan melawan The Hornets ke pertandingan-pertandingan liga berikutnya.

Nah, selain Leeds, berikut ini 6 klub Liga Premier yang sempat mengalami sindrom musim kedua itu:


1. Ipswich Town

Musim promosi: 2000/2001 (Posisi 5)

Pesona 6 Wasit Wanita Terseksi di Dunia

Pesona 6 Wasit Wanita Terseksi di Dunia

Musim kedua: 2001/2002 (Posisi 18, degradasi)

George Burley memimpin pasukan Ipswich selama delapan tahun yang sangat sukses. Di Portman Road, dia membawa The Tractor Boys mencapai play-off Divisi I dalam empat musim berturut-turut sebelum akhirnya mengantarkan klub promosi pada 1999/2000 setelah mengalahkan Barnsley 4-2 di Wembley.

Di musim pertama kembali ke Liga Premier, mereka bisa berbaur dengan klub-klub besar. Ipswich finish kelima dan tampil di semifinal Piala Liga. Mereka juga meraih beberapa kemenangan besar atas Liverpool di Anfield, menghancurkan Tottenham 3-0, dan memberikan perlwanan yang sengit pada Arsenal dan Manchester United.

Prestasinya memuncak ketika berhasil bermain di PIala UEFA untuk pertama kalinya sejak 1982. Burley juga menyegel penghargaan Pelatih Liga Premier Tahun ini.

Namun, performa luar biasa mereka lepas pada musim berikutnya saat kesulitan mengatasi jadwal pertandingan yang padat. Mereka tersingkir dari Eropa oleh Inter Milan yang berisikan pemain-pemain top seperti Ronaldo, Clarence Seedorf, Adriano, Javier Zanetti, dan Alvaro Recoba.

Di akhir musim The Tractor Boys hanya bisa finish di urutan 18 dan harus turun ke Divisi I lagi.


2. Manchester City

Musim promosi: 2002/2003 (Peringkat 9)

Musim kedua: 2003/2004 (Peringkat 16)

Sebelum erah Sheikh Mansour dan Pep Guardiola, Manchester City adalah klub medioker pada 1990-an. Setelah terdegradasi pada 2001 di bawah Joe Royle, Kevin Keegan direkrut untuk membuat Man City bangkit.

Dia melakukan hal itu dengan baik, membawa klub finish di urutan kesembilan serta, mengamankan tiket kualifikasi Piala UEFA. Mereka juga berhasil memenangkan Derby Manchester pertama dalam lebih dari 13 tahun.

Kampanye musim berikutnya, pasukan Keegan hanya finish dua strip di atas zona degradasi. Man City tersingkir dari babak kualifikasi Piala UEFA oleh klub Polandia yang sekarang sudah bubar, Groclin Dyskobolia. Mereka tersingkir karena kalah gol tandang.

Mereka juga hanya menang satu pertandingan dalam 18 pertandingan Liga Premier selama musim itu. Keegan akhirnya dipecat di musim berikutnya.


3. West Ham United

Musim promosi: 2005/2006 (Peringkat 9)

Musim kedua: 2006/2007 (Peringkat 15)

Setelah membimbing West Ham promosi melalui babak play-off pada2005, Alan Pardew kembali ke Milenium Stadium, Cardiff, pada tahun berikutnya ketika The Hammers mencapai final Piala FA. Di bawah Pardew, West Ham finis di papan atas Liga Premier perdana setelah promosi.

Bahkan, The Hammers menjadi tim terakhir yang mengalahkan Arsenal di Highbury dengan kemenangan sensasional 3-2. West Ham juga lolos ke Piala UEFA berkat kemenangan di final Piala FA melawan Cardiff City.

West Ham bersemangat untuk menjadi salah satu klub besar di Eropa, terutama setelah mengejutkan dunia dengan transfer Carlos Tevez dan Javier Mascherano. Tapi, klub justru tersingkir dari Eropa oleh Palermo dan masuk zona terdegradasi. Pardew akhirnya dipecat pada pertengahan Desember.

The Hammers mempercayakan arsitek berikutnya pada Alan Curbishley. Dia mempertahankan klub di Liga Premier pada hari terakhir musim setelah mengalahkan Sheffield United.

Tak terima dilengserkan dari Liga Premier, Sheffield menggugat klub London Timur itu atas dugaan pelanggaran transfer Tevez dan Mascherano. FA kemudian memutuskan bahwa West Ham melanggar aturan Liga Premier atas kepemilikan pemain dari pihak ketiga.

Uniknya, hingga sekarang, pertemuan West Ham vs Sheffield dikenal sebagai "The Carlos Tevez Derby".


4. Reading

Musim promosi: 2006/2007 (Peringkat 8)

Musim kedua: 2007/2008 (Peringkat 18, degradasi)

Pada 2006, Steve Coppell membawa Reading tampil di Liga Premier pertama kali. Mereka menyelesaikan delapan pertandingan awal tanpa kekalahan. Lalu, Coppell dianugerahi penghargaan "Pelatih Bulan ini".

"Saya pikir itu benar-benar pantas. Ini adalah kontribusi luar biasa yang dia buat. Apa yang menarik di Liga Premier adalah bahwa sebagian besar pemain yang berbasis di Inggris dan beberapa pemain Irlandia dimasukkan. Saya pikir itu mengatakan banyak cara dia mengumpulkan timnya bersama-sama," puji Sir Alex Ferguson saat itu.

Meski sukses di musim 2006/2007, Coppell juga menderita sindrom musim kedua . The Royals tersingkir dari Liga Premier setelah kehilangan banyak poin dalam delapan pertandingan liga berturut-turut pada Januari dan Februari, termasuk kekalahan 4-6 dari Tottenham Hotspur ketika Dimitar Berbatov mencetak empat gol.


5. Birmingham City

Musim promosi: 2009/2010 (Peringkat 9)

Musim kedua: 2010/2011 (Peringkat 18, degradasi)

Setelah finish runner-up Divisi I, pasukan Alex McLeish mendapatkan tiket ke Liga Premier untuk musim 2009/2010. The Blues membuang sedikit waktu untuk membangun diri mereka sebagai ancaman sejati di papan atas. Keberhasilan itu terbukti hanya sekejap dan kutukan itu melanda mereka di musim berikutnya.

Pasukan McLeish mengalahkan Arsenal 2-1 di final Piala Liga dengan gol dari Nikola Zigic dan Obafemi Martins dan menyegel trofi pertama klub sejak 1963. Tapi, sindrom musim kedua telah melanda dengan posisi 18 klasemen akhir.


6. Sheffield United

Musim promosi: 2019/2020 (Peringkat 9)

Musim kedua: 2020/2021 (Peringkat 20, degradasi)

Di bawah Chris Wilder, Sheffield United mengumpulkan reputasi untuk pendekatan inovatif pada permainan. Mereka memainkan sistem bek tengah yang tumpang tindih dan unik yang mengejutkan banyak ahli taktik. Hasilnya, The Blades banjir pujian setelah finish di posisi sembilan.

Tapi, pada musim kedua, semuanya berubah dengan cepat. Mereka membuat rekor untuk awal terburuk dalam sejarah papan atas kompetisi Inggris setelah kalah 12 dari 13 pertandingan pembukaan. Tak pelak, Wilder dipecat dan digantikan Paul Heckingbottom sebelum musim berakhir.

(diaz alvioriki/anda)




  • 0%Suka
  • 0%Lucu
  • 0%Sedih
  • 0%Kaget

Foto


Komentar

(500 Karakter Tersisa)
Sumber : https://www.youtube.com/watch?v=uZiDnSmspvE

Artikel Pilihan