Selamat Ulang Tahun!

Kisah Vata Matanu Garcia, Striker Kelas Dunia di Liga Indonesia yang Terlupakan

"Pernah tampil di final Liga Champions melawan AC Milan. Bikin gol kontroversial di semifinal Liga Champions lawan Marseille."

Biografi | 23 November 2020, 23:00
Kisah Vata Matanu Garcia, Striker Kelas Dunia di Liga Indonesia yang Terlupakan

Libero.id - Selain Mario Kempes dan Roger Milla, kompetisi sepakbola kasta tertinggi di Indonesia sempat disambangi sejumlah penyerang kelas dunia. Salah satu yang terlupakan adalah Vata Matanu Garcia.

Hubungan Vata dengan Indonesia dimulai pada 1994. Ketika Liga Indonesia digelar dengan menggabungkan Galatama dan Perserikatan, keran pemain asing dibuka selebar-lebarnya. Setiap tim bisa memiliki 3 legiun import dan tanpa pernah berencana, agen membawa pria berkebangsaan Angola itu ke Bali untuk membela Gelora Dewata (GD).

Pada liga musim perdana, Vata bermain sangat bagus. Dia membantu GD finish di posisi 5 klaseman akhir Wilayah Timur. Dengan 54 poin dari 32 pertarungan, mereka tertinggal 2 poin dari Barito Putera yang berada di posisi 4 alias zona babak 8 besar.

Meski gagal membantu GD menjuarai Liga Indonesia, Vata menunjukkan kelasnya sebagai penyerang lulusan Liga Champions. Dia memproduksi 21 gol. Koleksinya sama dengan penyerang Persib Bandung, Sutiono Lamso. Keduanya berada di posisi 4 di belakang Peri Sandria dengan 34 gol, Buyung Ismu (30 gol), dan Dejan Gluscevic (22 gol).

Penyerang kelahiran Damba, 19 Maret 1961, juga tampil bagus pada musim-musim selanjutnya bersama GD. Sempat bermain untuk Persija Jakarta pada 1998/1999, Vata kembali laga ke Stadion Ngurah Rai, Denpasar, pada 1999/2000.

Sayang, kehebatan Vata bersama GD di awal-awal Liga Indonesia seolah terlupakan penggemar sepakbola lokal. Salah satunya penyebabnya kepindahan GD ke Sidoarjo pada 2001. Sejarah klub yang lahir pada 1989 tersebut terhapus setelah berganti nama menjadi Gelora Putra Delta (GPD). Lalu, berubah lagi menjadi Delta Raya Sidoarjo (Deltras).  

Meski tidak banyak yang ingat dengan sepak terjangnya di Liga Indonesia, Vata punya reputasi harum saat di Eropa. Karier Vata dimulai di klub kampung halamannya, Progresso Associacao do Sambizanga.

Tampil bagus di klub yang berbasis di Luanda tersebut, Vata mendapatkan tawaran merumput di Portugal. Awalnya, dia bermain untuk Agueda pada 1983/1984. Lalu, hijrah ke Varzim pada 1984. Di klub yang kini bermain di Divisi II tersebut, Vata mencetak 26 gol dalam 77 laga Liga Portugal sepanjang 1984/1985 hingga 1987/1988.

Berkat performa yang menawan, tawaran datang dari klub elite Portugal, Benfica. Bergabung pada transfer window musim panas 1988 dengan fee yang dirahasiakan, Vata mencapai puncak karier di Estadio da Luz, Lisbon.

Gelar juara Liga Portugal 1988/1989 dan 1990/1991 menjadi dua persembahakan terbaik pemilik 65 caps dan 20 gol untuk tim nasional Angola tersebut.  Vata juga sempat meraih penghargaan Bola de Prata alias pencetak gol terbanyak liga. Pada 1988/1989, dia memproduksi 16 gol untuk meraih bola emas itu.

Salah satu momen yang tidak bisa dilupakan Vata saat bersama Benfica tercipta pada Piala Champions 1989/1990. Pada kompetisi yang kini bernama Liga Champions itu, Benfica nyaris juara. Mereka melewati jalan berliku sebelum dikalahkan AC Milan 0-1 pada final di Praterstadion, Vienna, 23 Mei 1990, oleh gol semata wayang Frak Rijkaard.

Ketika itu, nakhoda Benfica asal Swedia, Sven-Goran Eriksson, baru menurunkan Vata di menit 76 untuk menggantikan Victor Paneira. Tapi, itu sudah terlambat karena setelah unggul 1-0, Arrigo Sacchi memilih defensif.    

Namun, kebintangan Vata terjadi di semifinal. Menghadapi jagoan Prancis, Olympique Marseille, Benfica menyerah 1-2 pada leg I di Stade Velodrome, 4 April 1990. Untuk lolos, Elang Lisbon harus unggul minimal 1-0 pada leg II di Estadio da Luz, 18 April 1990, agar agregat menjadi 2-2 dengan keuntungan gol tandang.

Untuk mengejar defisit gol, Eriksson langsung menurunkan pemain terbaiknya. Di lini depan, Mats Magnusson dan Adesvaldo Jose de Lima. Sementara Vata disimpan di bangku cadangan.

Keputusan yang ternyata tepat. Awalnya, Benfica kerap kesulitan menembus pertahanan rapat Marseille. Pada menit 53, Eriksson memutuskan untuk menambah daya gedor timnya dengan memasukan Vata. Setengah jam kemudian Vata menciptakan gol kemenangan Benfica. Cukup 1-0, tim berseragam merah-putih itu lolos ke final.

Gol itu ternyata sempat menjadi kontroversi. Belum ada video assistant referee (VAR), Vata sebenarnya mencetak gol menggunakan tangan. Protes para pemain Marseille dianggap angin lalu oleh pangadil lapangan asal Benfica, Marcel van Langenhove. Padahal, berdasarkan rekaman pertandingan, tangan kanan Vata mendorong bola masuk gawang Jean Castaneda setelah menerim heading assist dari Magnusson.

"Tiga hari setelah pertandingan, saya menonton rekamannya. Saya mengerti bagaimana gol itu tercipta," kata kapten Benfica saat itu, Antonio Veloso, mengakui kesalahan rekannya, dilansir 20 Minutes.

Uniknya, Vata tidak peduli dengan protes kubu Marseille. Dia tetap bersikeras bahwa gol itu sah. Dia membela diri dengan mengatakan gol itu lahir melalui bahunya. "Vata harus membeli kacamata," ucap penyerang legendaris Prancis yang saat itu menjadi bintang di Marseille, Jean-Pierre Papin.

Pembelaan datang dari asisten Eriksson, Antonio Jose da Conceicao Oliveira alias Toni. "Ada penalti melawan Marseille! Vata tertangkap dan tidak bisa mendapatkan bola kembali sesuai keinginannya. Wasit tidak melihat pelanggaran ini karena dia tidak melihat bola memantul dari tangan Vata," pungkas Toni.




  • 0%Suka
  • 0%Lucu
  • 0%Sedih
  • 0%Kaget

Foto


Opini

(500 Karakter Tersisa)
Sumber : https://www.youtube.com/watch?v=8dWGNVpPzvQ

Artikel Pilihan


Daun Media Network