Selamat Ulang Tahun!

Mengenal Le Classique, El Clasico ala Prancis yang Akan Dihadapi Lionel Messi

"Ini pertandingan paling panas di Prancis. Tawuran sudah jadi pemandangan biasa."

Feature | 12 August 2021, 14:36
Mengenal Le Classique, El Clasico ala Prancis yang Akan Dihadapi Lionel Messi

Libero.id - Jika di La Liga, Lionel Messi menghadapi El Clasico, maka di Ligue 1 ada Le Classique. Sama-sama laga panas, ketat, penuh tekanan, dan sarat gengsi. Terkadang, menang di pertandingan ini lebih penting dari menjuarai liga itu sendiri.

Saat Le Classique menyapa, Kepolisian Prancis memasang status siaga satu. Pasalnya, rivalitas Paris Saint-Germain (PSG) versus Marseille sudah tersohor ke seantero Negeri Mode sebagai perseteruan abadi. Ini layaknya Real Madrid kontra Barcelona di Spanyol atau Boca Juniors melawan River Plate di Argentina.

Sejarah mencatat, pertemuan PSG kontra Marseille memang selalu menyuguhkan animo luar biasa. Meski PSG kerap unggul dari segi pertemuan sejauh ini, Marseille selalu pantang menyerah di lapangan.

Statistik menunjukkan, PSG telah meraih 45 kemenangan dan 22 skor imbang selama 100 perjumpaan terakhir di semua ajang. Tapi, khusus di Ligue 1, situasinya sejajar. Dari 83 pertandingan, kedua klub sama-sama memperoleh 32 kemenangan dan 19 sisanya imbang.


Persaingan keras dimulai sejak 1980-an

Yang unik dari Le Classique adalah perseteruan yang baru dimulai pada 1980-an. Ini berbeda dengan El Clasico di Spanyol atau Superclasico di Argentina yang sudah ada sejak awal abad 20. Itu karena PSG baru lahir pada 12 Agustus 1970.

Sebelum PSG lahir, Marseille secara tradisional merupakan raksasa sepakbola di Prancis. Dibentuk pada 1899, L'Oheme telah bersaing untuk trofi melawan klub-klub seperti Saint-Etienne atau Girondins Bordeaux. Di era itu, Paris menjadi satu-satunya ibu kota negera di Benua Biru yang tidak memiliki klub sepakbola elite.

7 Foto Zehra Gunes Bertema Mobil, Jarang Terekspos

7 Foto Zehra Gunes Bertema Mobil, Jarang Terekspos

Tapi, arah angin perlahan-lahan berubah. PSG mulai diperhitungkan di sepakbola Prancis setelah menjuarai Coupe de France 1981/1982. Saat itu, mereka mengalahkan Marseille, yang tampil di Division 2 (Ligue 2), pada babak 16 besar. PSG mampu mempertahankannya setahun kemudian.

Reputasi PSG semakin baik setelah menjuarai Division 1 (Ligue 1) untuk pertama kalinya pada 1985/1986 dan runner-up 1988/1989. Bahkan, pada 1988/1989, PSG dan Marseille bertarung ketat untuk menjadi juara. Presiden PSG saat itu, Francis Borelli, menuduh Presiden Marsei9lle, Bernard Tapie, mengatur pertandingan. Marseille akhirnya mengalahkan PSG dengan keunggulan tiga poin.

Kemudian, pada 1989-1992, Marseille memenangkan empat gelar Division 1 berturut-turut. Mereka juga menjadi runner-up Liga Champions 1990/1991 dan juara pada 1992/1993. Fans Marseille tidak pernah membiarkan suporter PSG melupakan kemenangan ini dengan slogan "A jamais les premiers" (Selamanya yang pertama).

Sayangnya semua keberhasilan ini dinodai oleh tuduhan pengaturan hasil pertandingan dari rival gelar PSG dan Monaco serta klub lain. Itu menambah bahan bakar lebih lanjut untuk persaingan mereka hingga hari ini.


Kesalahpahaman memahami identitas

Setelah era yang keras itu, persaingan PSG dan Marseille terus berlanjut. Hari ini, bentrokan tersebut dianggap sebagai persaingan terbesar Prancis dan juga salah satu yang terbesar di Eropa.

Duo ini adalah klub sepakbola Prancis yang paling sukses serta satu-satunya dua tim Prancis yang mengangkat trofi utama Eropa (Marseille Liga Champions, PSG Piala Winners). Mereka juga merupakan tim teratas yang tak terbantahkan sebelum kemunculan Lyon pada dekade awal 2000-an.

Seperti semua persaingan besar di sepakbola, Le Classique memiliki muatan sejarah, budaya, dan sosial. Itu membuatnya lebih dari sekedar pertandingan sepakbola selama 90 menit.

Orang-orang di Prancis melihatnya sebagai pertempuran antara dua kota terbesar di Prancis, yaitu Paris melawan Marseille. Ibukota negara melawan klub provinsi. Utara melawan selatan. Pusat kekuatan politik melawan kelas pekerja. Klub aristokrasi melawan klub rakyat jelata.

Namun, sebenarnya terdapat banyak kesalahpahaman tentang PSG dan Marseille. Beberapa orang mengira PSG adalah klub bangsawan dan borjuis, sementara Marseille milik kaum menengah ke bawah.

Faktanya justru sebaliknya. PSG sebenarnya lahir sebagai tim milik penggemar. Mereka dirikan oleh sekelompok pengusaha asal Paris yang menyukai sepakbola. Dengan bantuan pengurus Real Madrid dan petisi 20.000 orang, lahir sebuah klub yang kini dikenal sebagai PSG. Klub ini hasil merger Paris Football Club (PFC) dan Stade Saint-Germain.

Sebaliknya, Marseille didirikan pada 1892 oleh kalangan bangsawan, yang dipelopori Rene Dufaure de Montmirail. Mereka adalah klub elite yang para pendukungnya adalah orang-orang kaya di Prancis Selatan, yang mendapatkan bisnis dari perikanan, pariwisata, dan anggur.

Entah mengapa, pemahaman itu berubah 180 derajat. Sekarang, PSG dipahami sebagai klub kelas atas, milik orang-orang kaya, dan kapitalis. Sebaliknya, Marseille dianggap representasi kaum pekerja, miskin, dan sosialis.


Kedatangan investor Qatar dan Amerika Serikat

Sejak Tamim bin Hamad Al Thani menguasai PSG pada 2011 lewat bendera Qatar Sports Investments (QSI), level Marseille semakin di bawah. Dalam periode ini, Les Parisiens memiliki tujuh gelar juara Ligue 1. Sebaliknya, Marseille hampa piala. Trofi terakhir mereka terjadi pada 2009/2010.

Namun, bukan berarti Marseille tanpa perlawanan. Fakta menunjukkan, pasa 2012/2013 dan 2019/2020, Les Parisiens dan L'Oheme head to head untuk menjuarai kompetisi. Tapi, pada akhirnya PSG lebih unggul.

Dengan sokongan dana melimpah dari Qatar, PSG kini hampir menyamai koleksi total trofi Ligue 1 (Division 1) milik Marseille. Bersama Sint-Etienne, Marseille kini sama-sama memiliki satu bintang emas di logo klub setelah memiliki 10 piala. Sementara PSG mempunyai sembilan piala.

Keberhasilan PSG di era Qatar memunculkan rivalitas lain. Para pendukung Marseille  menggunakan isu nasionalisme sebagai senjata untuk melawan PSG. Padahal, Marseille juga tidak dimiliki orang Prancis lagi, melainkan Frank McCourt dari Amerika Serikat (AS). 

Tapi, beda dengan QSI yang jor-joran, McCourt Global LLC terkesan minimalis. pemilik klub bisbol, Los Angeles Dodgers, itu jarang membeli pemain mahal. Marseille hanya mengumpulkan pemain-pemain produk akademi. Mereka juga hanya membeli pemain bagus yang ramah di kantong.

(andri ananto/anda)




  • 0%Suka
  • 0%Lucu
  • 0%Sedih
  • 0%Kaget

Foto


Komentar

(500 Karakter Tersisa)
Sumber : https://www.youtube.com/watch?v=S9ONOZzRnjU

Artikel Pilihan