Selamat Ulang Tahun!

Kisah Hidup Jules Kounde, Anak Jahat yang Suka Menendang Ibunya

"Meski masa kecilnya penuh dengan masalah, kini Kounde bisa tersenyum lebar dengan bangga"

Biografi | 10 August 2021, 14:12
Kisah Hidup Jules Kounde, Anak Jahat yang Suka Menendang Ibunya

Libero.id - Bek asal Prancis itu dikabarkan akan bergabung dengan The Blues musim panas ini dengan kesepakatan senilai 70 juta Poundsterling atau sekitar 1,4 triliun.

Pemain berusia 22 tahun itu membuktikan dirinya sebagai salah satu bek muda terbaik di La Liga musim lalu saat membintangi Sevilla dan membantu klub berjuluk 'Los Nervionenses' itu lolos ke Liga Champions musim ini.

Jamie Robbins, pebola voli cantik Amerika yang gegerkan dunia maya

Jamie Robbins, pebola voli cantik Amerika yang gegerkan dunia maya

Kounde dibesarkan bersama ibunya di Landiras, sebuah desa kecil sekitar 40 menit dari kota Bordeaux, Prancis.

Sepakbola sudah menjadi gairah pada dirinya, tetapi sering kali hal itu membuat anak muda ini marah jika dia kalah. Kounde muda akan melampiaskan suasana hatinya yang buruk pada ibunya, bahkan dia tega sampai menendang kaki ibunya saat rasa kemarahan memuncak.

Menjadi sangat buruk, ibunya terpaksa menemui dokter untuk mendapatkan saran tentang cara menangani putranya.


Anak yang bermasalah
Ketika dia baru berusia sembilan tahun, Kounde bermain untuk salah satu tim lokal di Landiras.

Namun, anak laki-laki itu frustrasi ketika mereka gagal memenangkan pertandingan dan kehilangan kesabaran. Dan seringkali  dia melampiaskan kekecewaanya itu pada sang ibu.

"Ketika saya mulai bermain sepak bola di desa saya, kami bermain di level yang sangat rendah. Dan kami memiliki tim yang buruk, kami sering kalah," ungkapnya dalam wawancara dengan Onze Mundial.

"Saya tidak tahan kalah, itu membuat saya gila. Saya mengalami masa ketika saya berusia delapan atau sembilan tahun ketika saya sangat buruk dengan ibu saya."

Itu menjadi sangat buruk, Kounde memilih untuk berganti klub. Tapi tidak sebelum dia menyesali perbuatannya dengan menendang ibunya.

Dia berkata, "Saya ingat menendang kaki ibu saya. Ketika saya pulang dari permainan, saya marah dan melakukan beberapa hal canggung. Kejadian ini berlangsung sebentar."

"Ibuku pergi menemui seseorang untuk meminta nasihat, karena dia tidak bisa menanganiku dalam hal ini" lanjut Kounde.

"Psikiater itu berkata kepadanya, 'Lakukan hal yang sama, jika dia menendangmu, tendang dia, seperti itu, dia akan tenang'. Seiring waktu, semuanya kembali normal."


Pendidikan tetap menjadi prioritas
Melihat masalah perilaku Kounde, sang ibu ingin tetap ingin Kounde muda untuk mendapatkan pendidikan yang layak di sekolah.

"Di sekolah saya adalah siswa yang baik, tetapi saya tidak suka ditanyai tentang hal-hal yang tidak saya lakukan dengan baik," katanya.

"Saya memiliki nilai yang sangat bagus, tetapi terkadang dengan perilaku yang tidak jelas."

“Ada kalanya saya berkonflik dengan beberapa guru. Tapi itu tidak mempengaruhi saya karena saya lulus ujian."

"Saya hanya pergi ke sekolah untuk ibu saya yang tidak ingin saya berhenti."

Pada tahun 2013, Kounde direkrut oleh juara Ligue 1 enam kali, Bordeaux. Tapi perjalanannya ke akademi itu sulit, dua tahun dia harus menunggu giliran karena tak kunjung dipilih promosi ke tim utama. Ia juga melewatkan putaran final uji coba karena cedera ketika waktunya tiba.

Tapi Kounde beruntung bisa ditemukan oleh mantan pemain internasional Prancis, Yannick Stopyra, salah satu legenda sepakbola Prancis yang membawa negaranya finis ketiga di Piala Dunia 1986.

Berbicara tentang mantan anak didiknya, Stopyra mengungkapkan, "Anda tidak akan menemukan siapa pun untuk berbicara buruk tentang dia. Bijaksana, baik, dan selalu positif selama di Bordeaux."


Penemu bakat Kounde
Stopyra yang juga pernah bermain untuk Bordeux mengenali bakat remaja itu dan menawarinya kontrak satu tahun dengan tim berjuluk 'Les Girondins' itu. Segera, ia menjadi salah satu pemain akademi yang menonjol, dimana Kounde menjadi kapten tim U-19 untuk gelar di kompetisi liga pemuda.

Penampilannya cukup meyakinkan mantan manajer Bordeux saat itu, Jocelyn Gourvennec untuk memberi Kounde pertandingan debut saat melawan Troyes pada 2018.

Mantan legenda Chelsea itu terus membantu perkembangan bek tengah tersebut. Setelah Gourvennec dipecat, Gus Poyet didatangkan untuk menstabilkan tim dan dia memberi kesempatan pada pemain muda berbakat di tim utama.

Kounde memainkan peran pada empat bek yang dimainkan dalam 18 penampilan, Bordeaux finis di urutan keenam dan lolos ke Liga Europa.

Jelas masa depannya berada di panggung yang lebih besar.


Sevila menjadi batu loncatan yang tepat
Kounde menjalani musim yang hebat pada tahun berikutnya dengan tampil 51 kali untuk klub.

Tetapi Bordeaux mengakhiri musim dengan mengecewakan karena hanya finis di tempat ke-14. Pemain-pemain bintang mereka pun diambil oleh klub-klub yang lebih besar.

Sevilla-lah yang memenangkan perlombaan untuk membeli Kounde dengan mahar 21 juta Poundsterling  pada 2019 lalu.

“Ketika saya meninggalkan Bordeaux, itu adalah pilihan yang dipertimbangkan dengan baik,” ujar Kounde.

"Sevilla adalah klub yang sempurna untuk mengambil langkah maju. Dan kemudian, saya merasa bahwa La Liga lebih serius dari pada Ligue 1. Ini adalah waktu yang tepat bagi saya."

Dengan cepat, Kounde memantapkan dirinya di tim asal Andalusia itu, yang mana pemuda Prancis tersebut membantu Sevilla  finis keempat di La Liga dan Los Hispalenses berhak memainkan pertandingan kualifikasi Liga Champions.

Momen itu terjadi pada tahun 2020 ketika ia seperti akan memenangkan trofi besar pertamanya. Mengalahkan tim seperti Roma, Wolves, dan Manchester United, Sevilla mencapai final Liga Europa. Dan benar saja, Kounde memenangkan panggung itu saat Sevila memenangkan pertandingan dengan kemenangan 3-2 atas Inter Milan.


Penuh dengan ambisi
Kounde adalah bagian dari skuat Prancis yang tampil buruk di Euro musim panas ini. Meski begitu, pemain berusia 22 tahun itu tetap memiliki ambisi yang besar untuk melanjutkan kariernya.

Libero.id

Jules Kounde di ajang Euro 2020


"Saya mungkin harus pindah klub musim panas ini," katanya.

"Tapi belum ada yang final, dan saya belum memutuskan apa-apa. Tujuan saya adalah bermain di klub besar untuk mencoba selalu maju dan memenangkan trofi."

Melihat Chelsea yang ada dalam pengejarannya, Kounde berpotensi bergabung dengan sang juara Eropa pada musim panas ini.

Dengan bergabungnya Kounde di skuad mereka, The Blues dan Thomas Tuchel bisa saja menemukan bagian yang hilang dalam teka-teki memenangkan Liga Premier.

(diaz alvioriki/muf)




  • 0%Suka
  • 0%Lucu
  • 0%Sedih
  • 0%Kaget

Foto


Komentar

(500 Karakter Tersisa)
Sumber : https://www.youtube.com/watch?v=HgyPUs_08U4

Artikel Pilihan