Selamat Ulang Tahun!

Bagaimana Reaksinya? Pers dan Suporter di Tim yang Kandas di Fase Grup

"Ada yang marah gagal di Euro 2020. Tapi, beberapa lainnya bisa dimaafkan dan dianggap wajar"

Feature | 25 June 2021, 14:31
Bagaimana Reaksinya? Pers dan Suporter di Tim yang Kandas di Fase Grup

Libero.id - Minggu ini Euro 2020 harus mengucapkan selamat tinggal kepada delapan dari 24 negara yang tersingkir. Hal ini sangat wajar mengingat di setiap turnamen pasti ada peserta yang melampaui harapan dan yang  jauh dari harapan.

Dalam sepakbola, kalah-menang adalah hal biasa. Setiap pertandingan harus ada tim yang bergembira dan bersedih. Ada negara-negara yang suporternya senang saat tim kesayangan melangkah ke fase berikutnya. Tapi, banyak juga yang harus menangis karena penampilan yang buruk.

Sayangnya kegagalan harus didapatkan tim di kompetisi seakbar Euro 2020.  Tentu saja itu menghasilkan perlawanan dan kritikan yang sangat pedas dari suporter, pengamat, maupun media, meski tidak selalu. Sebab, ada beberapa negara yang menganggap hasil yang diraih timnya sudah maksimal.


1. Turki

Salah satu kuda hitam turnamen, Turki,  memiliki pengalaman mengerikan setelah tersingkir karena tiga kekalahan beruntun di fase grup. Pers tidak bisa menahan diri. Banyak surat kabar olahraga di negeri pewaris Ottoman tersebut yang memberitakan kegagalan itu dengan judul bombastis.

"The End", "Tembok Turki Runtuh", menjadi judul yang umum dai banyak media Turki. Ada lagi yang memberitakanya dengan lebih sederhana. “Aib”, tulis Fotomac. Sementara pada kolom surat kabar Fanatik, Mehmet Demirkol menulis: “Nol (poin) yang kami tonton bahkan tidak layak untuk nol. Kami menyaksikan buruknya manajerial tim".


2. Hungaria

Di Hungaria ada sentimen yang cukup berbeda setelah mereka nyaris menyingkirkan Jerman. “Bagus, anak-anak”. Itu adalah headline yang ditulis oleh harian olahraga papan atas, Nemzeti Sport.

Ternyata, itu juga adalah sentimen yang tercermin di seluruh negeri. Ada campuran kebanggaan dan kekaguman atas keinginan dan kualitas yang ditunjukkan Hungaria selama 270 menit melawan beberapa pemain terbaik Eropa. Dan, ada juga rasa optimisme yang nyata dari hampir semua pihak bahwa Hungaria sekarang dapat membangun sepakbola mereka untuk tampil di Qatar.

Andras Schaefer dan Attila Szalai dilihat sebagai harapan bagi tim, dan menambahkan bahwa kembalinya Dominik Szoboszlai serta kepemimpinan Marco Rossi, hanyalah awal dari kebangkitan sepakbola Hungaria.


3. Finlandia

Hal yang terjadi di Hungaria juga ada di Finlandia. Itu karena mereka tampil di Euro 2020 sebagai tim underdog. Fakta bahwa mereka mengambil tiga poin dan tersingkir secara halus dilihat sebagai hasil yang relatif dan dapat ditoleransi.

Kemenangan melawan Denmark diperoleh melebihi dari yang diharapkan. Bahkan, mereka sebenarnya memiliki kesempatan untuk lolos ke babak berikutnya pada pertandingan grup terakhir.

Terlihat bahwa performa Teemu Pukki jelas tidak dalam kondisi terbaiknya setelah cedera. Sementara Lukas Hradecky dinilai sebagai pemain terbaik. "Tim berkonsentrasi pada dirinya sendiri sepanjang waktu. Mereka bermain melawan raksasa Eropa dengan cara yang paling bijaksana. Dan tidak tidak hanya mengikuti kompetisi demi penguasaan bola atau menyerang saja," tulis Janne Kosunen di Ilta-Sanomat.


4. Skotlandia

Di Skotlandia, Steve Clarke telah membawa The Tartan Army ke turnamen besar. Tapi, tidak berhasil mengeluarkan mereka dari grup. "Jangan biarkan 23 tahun lagi, anak-anak,” tulis halaman depan The Scottish Sun. Di situlah letak tindakan penyeimbangan, memuji Skotlandia untuk kembali ke turnamen besar.

Media Skotlandia menunjukkan sikap yang sangat kontras. Beberapa penulis percaya Skotlandia tidak cukup baik untuk bersaing dengan yang terbaik di Eropa, dan argumen lain bersikeras bahwa pemain Clarke kurang berprestasi. Tapi, faktanya, negara ini telah kembali terlibat dengan turnamen internasioanal.


5. Polandia

Ketika para pemain Polandia kembali dari Saint Petersburg setelah kekalahan melawan Swedia, Presiden PZPN, Zbigniew Boniek, yang menghadapi pers menuturkan, “Apa yang kurang dari kita? Kualitas sepakbola yang paling penting. Saya tidak berpikir itu salah untuk mengganti pelatih kepala pada Januari 2021 dan menunjuk Paulo Sousa. Saya tidak berpikir saya melakukannya terlalu terlambat," ujar Boniek.

Setelah membebaskan dirinya dari kesalahan apa pun, dia melanjutkan komentarnya. "Ini lebih menyakitkan daripada saat di Rusia (Piala Dunia 2018) karena secara statistik kami lebih baik (melawan Slovakia dan Swedia). Tapi, tidak dapat mengubahnya menjadi kemenangan," kata Boniek.

"Kami harus menarik kesimpulan dari ini karena saya berharap kami bisa mencapai Piala Dunia berikutnya. Sepakbola Polandia membutuhkannya. Sousa telah mendapat kontrak dengan PZPN hingga akhir kualifikasi. Dia adalah pelatih yang sangat bagus dan dia mengubah tim," ungkap Boniek.


6. Slovakia

Ini adalah beberapa bulan yang sulit bagi Pelatih kepala Slovakia, Stefan Tarkovic, saat timnya berjuang di Kualifikasi Piala Dunia 2022 dengan hasil imbang melawan Siprus dan Malta hingga pada akhirnya tersingkir dari Euro 2020 setelah kekalahan melawan Swedia dan Spanyol. 

Suasana agak cerah setelah kemenangan pembukaan melawan Polandia, tapi tetap saja menjadi bahan diskusi tentang gaya permainan mereka. Secara keseluruhan, pendukung dan pers marah melihat pertahanan tim dalam tiga pertandingan. 

Memang belum ada seruan untuk perubahan drastis. Tapi, ada keinginan untuk pendekatan yang lebih menyerang dan ada kesepakatan luas bahwa pemain baru yang lebih muda dibutuhkan. Artinya, Tarkovic masih dimaaftkan dan mendapatkan kesempatan untuk meloloskan Slovakia ke Qatar, tahun depan.

(diaz alvioriki/anda)




  • 0%Suka
  • 0%Lucu
  • 0%Sedih
  • 0%Kaget

Foto


Komentar

(500 Karakter Tersisa)
Sumber : https://www.youtube.com/watch?v=uZiDnSmspvE

Artikel Pilihan