8 Pemain yang Pernah Mendapat Penghargaan Satir "Bidone d'Oro"

"Secara harafiah, Bidone d'Oro berarti "tempat sampah emas", yang diberikan sebagai antitesis Ballon d'Or atau "bola emas"."

Feature | 26 March 2021, 03:12
8 Pemain yang Pernah Mendapat Penghargaan Satir "Bidone d'Oro"

Libero.id - Sepakbola Italia pernah mengenal Bidone d'Oro. Itu adalah penghargaan satir untuk pemain paling mengecewakan di Serie A. Secara harafiah, Bidone d'Oro berarti "tempat sampah emas", yang diberikan sebagai antitesis dari Ballon d'Or atau "bola emas".

Sebagai penghargaan yang sengaja digelar sebagai kebalikan Ballon d'Or, Bidone d'Oro juga menggunakan metode yang berbeda pula. Jika pemenang Ballon d'Or dipilih pelatih dan kapten tim nasional, maka Bidone d'Oro berdasarkan polling pendengar acara Catersport di Rai Radio 2, melalui telepon, SMS, dan Facebook di kemudian hari.

Tidak seperti Ballon d'Or yang ruang lingkupnya sangat luas dan melibatkan banyak pemain, Bidone d'Oro hanya diberikan kepada pesepakbola-pesepakbola dari seluruh dunia yang sedang bermain di Serie A.

Selain itu, karena sifatnya yang ejekan, Bidone d'Oro sering menimbulkan kontroversi. Meski jarang ada pemain yang protes, beberapa pendukungnya sering mengajukan keluhan langsung ke penyelenggara. Beruntung, zaman itu belum masif penggunaan media sosial seperti era sekarang.

Bidone d'Oro diselenggarakan pertama kali pada 2003 dan berhenti pada 2012 ketika Catersport tidak lagi mengudara. Selama 10 edisi, ada 8 pesepakbola top yang pernah mendapatkan penghargaan satir tersebut. Berikut ini pemain-pemain itu:


1. Rivaldo (2003)

Libero.id

Kredit: instagram.com/rivaldo

Edisi perdana Bidone d'Oro dimenangkan Rivaldo, yang saat itu memperkuat AC Milan. Lalu, Al-Saadi Gaddafi (Perugia) menjadi runner-up dan Carsten Jancker (Udinese) berada di posisi 3.

Mengapa Rivaldo? Ini agak aneh. Pasalnya, legenda Brasil itu punya koleksi Ballon d'Or 1999 saat bermain untuk Barcelona.

Rivaldo datang ke San Siro pada awal musim 2002/2003 setelah kabur dari Barcelona akibat perlakuan Louis van Gaal yang tidak menyenangkan. Di musim perdana, Rivaldo bermain 38 kali di semua ajan. Dia membantu I Rossoneri memenangkan Coppa Italia, Liga Champions, dan Piala Super Eropa.

Lalu, apa alasannya? Tidak ada yang tahu pasti. Tapi, kemungkinan besar karena keputusannya mengakhiri kontrak dengan Milan pada November 2003 setelah tidak pernah dimainkan setelah Piala Super Eropa akibat berat badan yang tidak ideal akibat kebanyakan mengkonsumsi alkohol.


2. Nicola Legrottaglie (2004)

Nicola Legrottaglie hebat saat membawa Chievo Verona promosi ke Serie A untuk kali pertama dalam sejarah. Kemudian, The Flying Donkeys dibantu menembus Piala UEFA. Akibatnya, dia pergi ke Juventus pada musim panas 2003 dengan 7,55 juta euro plus 50% hak Giuseppe Sculli, Matteo Paro, dan Daniele Gastaldello.

Legrottaglie adalah anggota penuh skuad tim utama pada musim 2003/2004. Dia ambil bagian dalam 21 pertandingan dan mencetak 2 gol di bawah asuhan Marcello Lippi.

Tapi, angka-angka itu hanya ada di atas kertas. Di lapangan, bek asal Italia itu tampil sangat buruk dengan beberapa blunder fatal yang dikenang pendukung La Vecchia Signora hingga bertahun-tahun kemudian. Jadi, tidak akan yang pantas mengeluh ketika Legrottaglie mendapatkan "tempat sampah emas" itu pada 2004.


3. Christian Vieri (2005)

Sama seperti kasus Rivaldo, keberadaan Christian Vieri di daftar ini cukup aneh. Pasalnya, sejarah mencatatkan sepak terjang Bobo di sepakbola Italia dan Eropa dengan tinta emas. Dia bersinar tidak hanya di Italia, melainkan juga Spanyol hingga Piala Dunia.

Tapi, jika penghargaan satir itu diberikan pada 2005, cukup masuk akal. Pada 2004/2005, dia memang tampil buruk di musim terakhir bersama Inter Milan. Setelah pindah ke AC Milan pada Juli 2005, peruntungan Vieri tidak juga membaik. Dia hanya mencetak 1 gol ketika Bidone d'Oro diumumkan. Hingga akhir musim, tidak ada lagi gol yang dilahirkan dari total 8 pertandingan.


4. Adriano (2006, 2007, 2010)

Libero.id

Kredit: inter.it

Tidak ada pemain yang mengoleksi Bidone d'Oro sebanyak Adriano Leite Ribeiro. Dia mendapatkan 3 piala. Dua kali saat berseragam Inter Milan dan 1 sisanya dengan AS Roma. Tidak perlu dijelaskan mengapa. Sebab, semua orang di era itu tahu apa yang terjadi.

"Dia mendapat telepon dari Brasil: 'Adri, ayahmu meninggal'. Saya melihatnya di kamar, dia melempar telepon dan berteriak. Anda tidak bisa membayangkan teriakan itu. Sejak itu (Massimo) Moratti dan saya mengawasinya karena dia adalah adik kecil kami. Dia terus bermain, mencetak gol, dan menunjuk ke langit untuk ayahnya," ujar Javier Zanetti beberapa tahun kemudian.

"Tapi, setelah telepon itu, tidak ada yang sama. Ivan (Cordoba) menghabiskan satu malam bersamanya dan berkata: 'Adri, kamu adalah campuran Ronaldo dan Zlatan (Ibrahimovic). Apakah kamu sadar bahwa kamu bisa menjadi pemain terbaik yang pernah ada?' Kami tidak berhasil menariknya keluar dari depresi," tambah legenda Argentina itu.

Depresi dilampiaskan Adriano dengan hal negatif. Dia malas berlatih. Dia memakan apa saja yang tidak seharusnya masuk ke mulut olahragawan. Yang paling parah adalah alkohol, narkoba, dan aksi kriminalitas. Jadi, untuk 3 kali Bidone d'Oro, itu hal yang wajar.


5. Ricardo Quaresma (2008)

Ricardo Quaresma bergabung dengan Inter Milan pada 1 September 2008 dengan 18,6 juta euro dari FC Porto. Tapi, hanya beberapa bulan di Serie A, Quaresma langsung mendapatkan Bidone d'Oro. Itu karena permainannya yang buruk dan keberadaan Zlatan Ibrahimovic.

"Dia adalah bakat yang hebat. Tapi, kegembiraan yang saya miliki saat melihat cara Ibra bekerja dengan tim, belum saya miliki dengan Quaresma. Dia harus belajar. Jika tidak, dia tidak akan bermain. Dia suka menendang bola dengan bagian luar kakinya. Tapi, jika anda bertanya kepada saya tentang dia dalam waktu beberapa bulan, kita akan berbicara tentang Quaresma yang berbeda," ungkap Jose Mourinho.


6. Felipe Melo (2009)

Karier Felipe Melo di Juventus sama persis Nicola Legrottaglie. Hebat saat memperkuat Fiorentina, pemain asal Brasil itu akhirnya dibeli Juventus pada musim panas 2009 dengan 25 juta euro plus Marco Marchionni (4,5 juta euro) serta Cristiano Zanetti (2 juta euro).

Tapi, dalam hitungan bulan, Melo justru mendapatkan Bidone d'Oro. Itu karena aksi kontroversialnya saat Derby d'Italia melawan Inter Milan. Dia secara kontroversial dikeluarkan dari lapangan karena menyikut Mario Balotelli. Insiden tersebut memicu pertengkaran sengit antara Gianluigi Buffon dengan Thiago Motta. Keduanya harus dipisahkan oleh pemain Inter dan Juventus lainnya.


7. Diego Milito (2011)

Roda kehidupan berputar sangat cepat untuk Diego Milito dalam kariernya di Inter Milan. Pada akhir 2010, Milito mencetak gol melawan Seongnam Ilhwa Chunma di semifinal Piala Dunia Antarklub. Inter kemudian memenangkan turnamen bergengsi besutan FIFA tersebut. Bulan selanjutnya, dia menerima Oscar del Calcio untuk "Pemain Asing Terbaik" dan "Pesepakbola Terbaik 2009/2010".

Karier berlanjut pada laga Serie A pertama musim 2011/2012, Milito mencetak 2 gol dalam kekalahan 3-4 melawan Palermo. Pada 2 November 2011, dia mencatatkan gol ke-200 bersama I Nerazzurri dalam pertandingan Liga Champions melawan Lille. Skor akhirnya 2-1.

Anehnya, pada akhir tahun Milito justru menerima Bidone d'Oro. Suporter Inter kaget dan menuduh polling dilakukan kepada fans AC Milan dan Juventus. Benar seperti itu? Entahlah!


8. Alexandre Pato (2012)

Libero.id

Kredit: instagram.com/pato

Alexandre Rodrigues da Silva alias Pato mengalami masa sulit sepanjang 2011 hingga 2013. Itu karena cedera yang datang silih berganti, yang membuat Pato hanya memiliki 15 penampilan di Serie A sepanjang 2011/2012 dan 2012/2013. Jadi wajar jika Bidone d'Oro edisi terakhir menjadi miliknya. Bahkan, jika 2013 juga diadakan, Pato akan terpilih lagi.

Baca Berita yang lain di Google News




  • 0%Suka
  • 0%Lucu
  • 0%Sedih
  • 0%Kaget

Opini

(500 Karakter Tersisa)

Artikel Pilihan


Daun Media Network