Bagaimana Vagner Love Mendapatkan Namanya? Inilah Kisahnya

"Ternyata namanya sesuai dengan hidupnya: Petualang cinta."

Biografi | 09 March 2021, 04:47
Bagaimana Vagner Love Mendapatkan Namanya? Inilah Kisahnya

Libero.id - Pemain Brasil terkenal dengan kebiasaan mengubah nama. Ada yang berdasarkan daerah seperti Gabriel Paulista atau Juninho Pernambucano. Ada pula yang meniru tokoh film layaknya Hulk. Tapi, yang dilakukan Vagner Silva de Souza untuk berubah menjadi Vagner Love cukup unik.

Vagner memulai karier di kampung halamannya. Dia memperkuat Palmeiras sejak junior. Lalu, pada 2003, penyerang kelahiran Rio de Janeiro, 11 Juni 1984, tersebut membantu klubnya kembali ke Campeonato Brasileiro Serie A setelah sempat turun kasta.

Performa bagus di Negeri Samba membawa Vagner berkelana ke luar negeri. Pada transfer window musim panas 2004, dia mendapatkan tawaran bermain di Rusia membela CSKA Moscow. Meski sempat dipinjamkan kembali ke Palmeiras dan Flamengo, Vagner masuk kategori legenda CSKA karena kariernya yang panjang plus gelar juara yang dipersembahkan.

Di era itu, CSKA tercatat dalam buku sejarah sebagai klub Rusia pertama yang menjuarai kompetisi antarklub Eropa. Pada 2004/2005, tim yang merupakan kepanjangan dari Tsentral'nyy Sportivnyy Klub Armii (Central Sport Club of the Army) itu menjuarai Piala UEFA.

Pada pertandingan puncak di Estadio Jose Alvalade, Lisbon, CSKA mengalahkan sang pemilik stadion, Sporting Lisbon. Mereka unggul 3-1 melalui Aleksei Berezutski, Yuri Zhirkov, dan Vagner. Satu-satunya gol Sporting dicetak Rogerio Fidelis Regis.

Vagner punya 2 periode bersama CSKA. Pada periode pertamanya, dia mencetak total 95 gol dari 184 pertandingan. Capaian itu semakin lengkap karena dia juga mempersembahkan Liga Premier Rusia 2005 dan 2006. Ada lagi 4 Piala Rusia dan 3 Piala Super Rusia. Jika juga menjadi topskor untuk musim 2008.

Sempat kembali ke CSKA pada 2013, Vagner tidak sesukses periode pertama. Kemudian, dia meninggalkan Rusia untuk selamanya. Dia pergi ke China untuk membela Shandong Luneng. Lalu, Corinthians, AS Monaco, Alanyaspor, dan Besiktas. Sejak 2020, Vagner bermain di Kazakhstan bersama FC Kairat.


Petualang cinta dan penganut seks bebas

Jadi, darimana nama Love itu berasal? Pada 2012, Vagner pernah menggelar wawancara dengan majalah dewasa, Playboy Brazil. Dia membeberkan latar belakangnya di masa muda sebagai petualang cinta, penganut seks bebas, dan memiliki kegemaran menggelar pesta dewasa.

Vagner mengungkapkan masa lalunya yang romantis. Dia menyatakan berhubungan seks dengan banyak pasangan adalah hal biasa antara pemain dan anggota tim. Pesta dewasa yang melibatkan hingga 14 orang adalah hal biasa pada hari-harinya sebagai pria lajang. Itu antara para pemain dengan para pendukung wanita yang tergila-gila dengan bintang-bintang sepakbola.

"Apakah itu benar terjadi? Sekarang saya sudah menikah. Tapi, pesta-pesta seperti itu memang terjadi. Jika ada enam pemain, kami akan mengatakan bahwa kami akan memiliki delapan perempuan muda, lebih atau kurang," ujar Vagner saat itu, kepada Playboy Brazil.

Vagner juga menyebut usia pertama kali melakukan hubungan layaknya suami istri dengan orang yang tidak memiliki ikatan resmi dengannya adalah 14 tahun. Tanpa ragu, dia menyatakan pasangan kencannya ketika itu berusia 25 tahun atau 11 tahun lebih tua.

"Para groupies (sebutan untuk pada abg itu) ingin mengambil keuntungan. Mereka ingin mendapatkan pemain sepakbola dan kemudian membicarakannya dengan teman-teman mereka: 'Hei, saya bersama pria ini, saya bersama pria itu'. Ada banyak persaingan di antara mereka. Mereka semua menginginkan status dan sedikit ketenaran," tambah Vagner.

Lebih lanjut, Vagner menjelaskan bahwa dari aktivitas-aktivitas gila itulah nama belakangnya muncul. Saat itu, satu hari sebelum pertandingan, Vagner dan para pemain lainnya menggelar pesta gila-gilaan. Meski tidak bersedia menyebut tim yang dimaksud, dia memastikan dari situlah muncul "Love" untuk nama belakangnya.

"Saya hanya melakukan itu sekali dalam hidup saya. Saya tidak akan merekomendasikan hal itu kepada pemain mana pun yang sedang memulai kariernya. Nama saya (Love) berasal dari situ. Itu adalah kesalahan yang akhirnya melekat pada saya," ungkap Vagner.

"Saya tidak pernah melakukannya lagi setelah memiliki istri. Saya berubah karena saya berpendapat apa yang dulu kami lakukan tidak boleh dilanjutkan. Itu buruk," lanjut penyerang yang memiliki 20 caps dan 4 gol untuk tim nasional Brasil tersebut.

Selain karena istri, cuaca di Rusia yang ekstrim juga membuat Vagner tidak melakukan pesta-pesta gilanya. "Saya masih bisa melakukannya (hubungan sesks dengan istri). Di rumah, di restoran, atau di pusat perbelanjaan selalu ada pemanas. Jadi tidak masalah. Masalahnya ada di jalan. Saya tidak bisa melakukan itu di jalan karena suhunya -27, -30 derajat celcius," beber Vagner.

Setelah tidak "nakal" performa Vagner sangat bagus di Rusia. Dia menjadi penyerang yang hebat dan menjadi fenomena di lapangan dengan puncaknya menjuarai Piala UEFA bersama CSKA.

"Saya rasa Jo (rekan setim Vagner saat itu) adalah pemain yang paling berbakat. Tapi, Vagner (Love) paling sukses. Saya menilai dia benar-benar pemain Brasil terbaik di Liga Rusia,” kata Vitaly Leonov, seorang jurnalis peliput laga-laga CSKA, dilansir Punditfeed.

"Di awal kariernya, dia memang terlalu malas. Dia bisa menghabiskan semua pertandingan hanya mengikat tali sepatu. Meski kedengarannya aneh, ini adalah anekdot asli dan tipe yang membuat anda lebih disukai oleh seorang pemain,” kenang Leonov.

Vagner hanya sanggup mencetak 13 gol dalam 21 pertandingan pada musim pertama di CSKA. Tapi, jumlah gol itu menurun drastis setahun berikutnya, meski sukses di Piala UEFA. “Saya ingat satu lagi (cerita). Di akhir musim, dia mulai mengumpulkan kartu kuning untuk melewatkan pertandingan terakhir untuk pergi ke Brasil satu minggu sebelumnya," tambah Leonov.

"Pemilik CSKA (Yevgeni Giner) menganggap Vagner sebagai anak sendiri. Dia mencetak gol dalam pertandingan pertamanya untuk CSKA, melawan Baku, dan dia memiliki grafiti pribadi di CSKA Arena,” ungkap Leonov. Hasil teratas untuk sepakbola Rusia dan Uni Soviet," pungkas Leonov.

Baca Berita yang lain di Google News




  • 0%Suka
  • 0%Lucu
  • 0%Sedih
  • 0%Kaget

Opini

(500 Karakter Tersisa)

Artikel Pilihan


Daun Media Network