Selamat Ulang Tahun!

Kisah Peter Withe, Mantan Pelatih Timnas Indonesia Kini Berjualan Buku

"Withe berhasil meracik skuad tangguh. Ada Hendro Kartiko, Kurniawan Dwi Yulianto, Ilham Jaya Kesuma dan Boaz Solossa. Peter Withe pernah meraih gelar Piala Champions."

Biografi | 16 December 2020, 01:18
Kisah Peter Withe, Mantan Pelatih Timnas Indonesia Kini Berjualan Buku

Libero.id - Sebagai pemain, Peter Withe menunjukkan kehebatannya di Eropa. Saat beralih profesi menjadi pelatih, pria asal Inggris dipuja di Asia Tenggara. Sukses bersama Thailand, tapi gagal dengan Indonesia.

Withe termasuk striker jempolan saat membela sejumlah klub di Inggris pada 1971-1990. Pria kelahiran Liverpool, 30 Agustus 1951, itu membantu Nottingham Forest memenangi Anglo-Scottish Cup serta Football League Division Two (Championship Division) 1976/1977.

Ketika bermain di Football League Division One (Premier League), Withe membuat Nottingham semakin berkibar. Pada 1977/1978, dia membantu mempersembahkan gelar juara plus Piala Liga. Ada pula Charity Shield 1978.

Selain The Forest, Withe juga berhasil mempersembahkan beberapa piala ketika membela Aston Villa. Contohnya, Football League Division One (1980/1981), Piala Champions (1981/1982), serta Piala Super Eropa 1982. Hingga kini, prestasi di Eropa pada 1981/1982 belum pernah disamai para pemain Villa.  

Keberhasilan membawa klub berjaya membuat Withe mendapatkan panggilan tim nasional Inggris. Meski tidak sehebat Wayne Rooney atau Harry Kane, Withe ikut menjadi anggota The Three Lions ketika berjibaku di Piala Dunia 1982. Selama bermain untuk Inggris, dia mempunyai 11 caps dan 1 gol.

Setelah puas berkarier sebagai pemain, Withe pensiun pada 1991 sebagai pemain Villa. Lalu, dia mengambil lisensi pelatih sebelum akhirnya ditunjuk sebagai pelatih junior Villa. Withe kemudian diminta menjadi nakhoda Wimbledon pada 1991 saat Ray Harford mengundurkan diri.

Karier Withe bersama The Dons ternyata tidak terlalu bagus. Dia hanya bertahan 105 hari sebelum digantikan Joe Kinnear. Akibatnya, Withe memutuskan pergi ke Thailand untuk menukangi tim Gajah Putih.

Bersama Thailand, keberuntungan menaungi Withe. Tangan dinginnya sukses menjadikan Thailand raja di Asia Tenggara. Dia melahirkan banyak pemain hebat Negeri Gajah Putih yang menjadi legenda di kemudian hari. Sebut saja Kiatisuk Senamuang, Worrawoot Srimaka, Sakda Joemdee, Pipat Thonkanya, Tawan Sripan, Sutee Suksomkit, hingga Therdsak Chaiman.

Generasi milenium baru itu membawa Thailand tampil di Piala Asia 2000 serta menjuarai Piala Tiger (Piala AFF) 2000 dan 2002. Dua gelar yang diraih Thailand semuanya didapat setelah menundukkan Indonesia di partai pamungkas. Entah di Bangkok atau Jakarta, Withe sukses membuat para pemain Thailand memiliki mental baja.

Pada 2000, Thailand mencukur Indonesia 4-1 lewat 3 gol Worrawoot dan 1 gol Tanongsak Prajakkata di Rajamangala Stadium, Bangkok. Gol hiburan skuad Garuda diukir Uston Nawawi.

Dua tahun berselang, skuad Garuda kembali dipaksa menyerah lewat laga dramatis di Stadion Utama Gelora Bung Karno, Jakarta. Setelah imbang 2-2 dalam waktu normal plus dua kali perpanjangan waktu, pertarungan harus dilanjutkan lewat adu penalti. Dewi fortuna belum berpihak ke Indonesia setelah kalah 2-4.

Kekalahan dari Thailand pada dua final Piala Tiger membuat PSSI penasaran dengan sentuhan midas Withe. Setelah kontrak kerja di Thailand berakhir tanpa opsi perpanjangan, Withe dipekerjakan Indonesia. Pekerjaan pertama Withe ada di Piala AFF 2004.  

Seperti saat di Thailand, Withe juga memulai pekerjaan beratnya dengan mencari pemain-pemain terbaik dari seluruh pelosok negeri. Dia datang ke banyak stadion di Sumatera, Jawa, Kalimantan, Sulawesi, Bali, Maluku, hingga Papua.

Withe akhirnya berhasil meracik skuad yang tangguh. Dia memanggil Hendro Kartiko, Kurniawan Dwi Yulianto, Ortizan Solossa, Ilham Jaya Kesuma, Ponaryo Astaman, Eli Aiboy, Saktiawan Sinaga, Mahyadi Panggabean, Charis Yulianto, hingga Ismed Sofyan.

Satu pemain yang ketika itu menjadi perbincangan adalah Boaz Solossa, yang baru berusia 18 tahun. Ketika itu, Boaz menjadi bintang pada Piala Tiger 2004. Kemampuan teknik, kecepatan lari, dan eksekusi jempolan membuat legenda Persipura Jayapura itu menjadi perhatian khusus banyak media dan pemandu bakat di Asia.

Sayang, lagi-lagi Indonesia harus puas dengan status runner-up. Withe gagal memenuhi harapan setelah tim Merah-Putih dipermalukan legiun naturalisasi Singapura di partai puncak berformat home and away.

Kegagalan terasa menyakitkan. Tapi, PSSI masih percaya pada sentuhan Withe di lain waktu. Dia tetap bekerja untuk tim Garuda yang sedang diproyeksikan ke Piala Asia 2007. Sayangnya kegagalan lolos dari fase grup Piala AFF 2007 membuat Withe harus angkat kaki. Dia dipecat pada Januari 2007 dan Indonesia menunjuk Ivan Kolev untuk Piala Asia, beberapa bulan kemudian.

Ternyata, pemecatan yang didapatkan dari PSSI tidak membuat Withe jera melatih di Asia Tenggara. Dia kembali ke Thailand pada 2013 setelah lama menghilang. Withe melatih PTT Rayong sebelum bergabung dengan Nakhon Pathom United pada 2014-2016.

Kini, Withe tidak lagi berkecimpung di sepakbola. Dia sudah pulang ke kampung halamannya di Inggris untuk menikmati hari tuanya. Sesekali Withe menjadi komentator pertandingan. Hari-harinya juga dihabiskan untuk berjualan buku. Itu bukan buku biasa, melainkan autobiografi Withe berjudul "All for The Love of The Game" (semuanya untuk kecintaan pada permainan).

Dalam buku tersebut, Withe menjabarkan pengalaman selama bertahun-tahun menjadi pemain maupun pelatih sepakbola. Dia menceritakan banyak hal yang selama ini jarang diketahui penggemar tentang dirinya.

"Kami masih memiliki buku yang tersedia, silakan buka dan pesan buku anda! Anda akan menerima kartu pos bertanda tangan untuk Natal. Buku ini seharga 22,69 pounds harga termasuk ongkos kirim Inggris," tulis Withe di akun Twitter resmi miliknya, @Peter_Withe.




  • 0%Suka
  • 0%Lucu
  • 0%Sedih
  • 0%Kaget

Foto


Komentar

(500 Karakter Tersisa)
Sumber : https://www.youtube.com/watch?v=HgyPUs_08U4

Artikel Pilihan