Setuju atau Tidak? Mengganti "Lemparan ke Dalam" dengan "Tendangan ke Dalam"

"Jika diterapkan, pemain seperti Pratama Arhan tidak dibutuhkan lagi.."

Analisis | 15 June 2022, 20:05
Setuju atau Tidak? Mengganti "Lemparan ke Dalam" dengan "Tendangan ke Dalam"

Libero.id - Sejak ditunjuk sebagai Direktur Pengembangan Sepakbola Global FIFA, Arsene Wenger, berusaha melakukan evolusi permainan dengan beberapa aturan baru. Salah satu yang diusulkan mantan pelatih Arsenal itu adalah mengganti throw-in (lemparan ke dalam) dengan kick-in (tendangan ke dalam).

Ide ini diusulkan Wenger pada 2020. Ini mirip dengan futsal. Dan, seperti biasa, pro dan kontra bermunculan dengan alasannya masing-masing.

Pria asal Prancis itu mengungkapkan beberapa alasannya terkait usul pergantian lemparan ke dalam dengan tendangan ke dalam. Pergantian aturan adalah upaya untuk membuat permainan "lebih spektakuler dan lebih cepat". Wenger percaya, permainan perlu dipercepat untuk menjaga perhatian generasi muda.

"Saya ingin mengubah aturan lemparan ke dalam. Lima menit sebelum akhir, lemparan ke dalam untuk sebuah tim seharusnya menjadi keuntungan. Tapi, dalam situasi ini pemain akan menghadapi 10 pemain lapangan dalam permainan. Sementara anda hanya memiliki sembilan pemain," ujar Wenger pada 2020 kepada L'Equipe.

"Statistik menunjukkan, delapan dari 10 situasi lemparan ke dalam, pemain kehilangan bola. Di separuh lapangan anda, anda seharusnya memiliki kemungkinan untuk melakukan tendangan," tambah Wenger.

Uniknya, ide itu terus bergulir. Bahkan, baru-baru ini, IFAB sebagai lembaga yang berwenang mengeluarkan peraturan pertandingan setuju untuk melakukan uji coba. Mereka secara khusus membahasnya dalam Rapat Umum Tahunan di Qatar pada Senin (13/6/2022).

"Ide tendangan ke dalam akan segera diuji coba. Percobaan lain juga akan dilakukan seperti menjelaskan keputusan wasit tertentu selama pertandingan dan perhitungan waktu bermain yang berpotensi lebih adil. Setiap uji coba memerlukan izin dan akan diawasi oleh IFAB dan FIFA," bunyi pernyataan IFAB di situs resminya.

Apa yang disebut "perhitungan waktu bermain yang lebih adil" dapat mencakup penerapan waktu murni dalam pertandingan. Jadi, ketika bola keluar atau wasit menghentikan permainan, waktu akan dimatikan. Ini sama persis dengan futsal dan bola basket.

Dalam pertemuan tersebut, IFAB juga memutuskan untuk menambah jumlah maksimal nama pemain yang ada di daftar susunan pemain dari sebelumnya 12 orang menjadi 15. Ada juga penambahan pergantian pemain dari tiga menjadi lima.

Selain itu, Wenger juga mengusulkan beberapa aturan lain, termasuk off side. "Untuk saat ini, anda berada dalam posisi off side jika bagian tubuh anda yang bisa anda gunakan untuk mencetak gol berada di depan tubuh bek lawan anda," ujar mantan pelatih AS Monaco itu.

"Saya ingin tidak ada off side selama bagian tubuh (tunggal) yang dapat digunakan pemain untuk mencetak gol sejajar dengan bek. Ini bisa menjadi keuntungan yang terlalu besar bagi penyerang, karena itu mengharuskan bek untuk bermain lebih tinggi," beber Wenger.

Wenger juga sempat menyebutkan tendangan sudut dan tendangan bebas. "Kami juga mempertimbangkan hal-hal lain. Tendangan sudut masuk yang keluar dari permainan dan masuk kembali dapat dibuat valid. Ini akan menciptakan peluang mencetak gol baru. Ada juga pilihan untuk memainkan tendangan bebas untuk diri sendiri," tambah Wenger.

Uniknya, Asosiasi Sepakbola Belanda (KNVB), beberapa hari lalu mengumumkan akan menjalankan beberapa ide Wenger di Eerste Divisie 2023/2024. Mereka akan mencoba aturan tersebut di kompetisi kasta kedua setelah musim lalu sempat dicoba di liga amatir, dan sukses.  

(atmaja wijaya/anda)

Baca Berita yang lain di Google News




  • 0%Suka
  • 0%Lucu
  • 0%Sedih
  • 0%Kaget

Opini

(500 Karakter Tersisa)

Artikel Pilihan


Daun Media Network